💦 SEBAB TERTUNDANYA KEMENANGAN…

Tags

, ,

lost_page_image

💧 Seorang utusan datang menghadap Umar bin Khatthab, ra. membawa berita kemenangan.

💧 Umar bertanya, “Sejak kapan kalian berhadapan dengan musuh kalian itu..?”

“Sejak pagi hari.” Jawaban utusan.

“Sampai kapan..?” Tanya Umar.

“Sampai sore hari.” Jawab utusan.

“Inna lillahi… !!! Sebuah kesyirikan mampu berhadapan dengan keimanan sejak pagi sampai sore..?!! Demi Allah, semua ini pasti karena dosa yang telah kita perbuat.

💧 Sungguh aku pernah mengutus Ya’la bin Umayyah ke Yaman supaya mereka bisa diberi kemenangan karena berkah keshalihannya.

[“Bahjatul Majalis”, Ibnu Abdil Barr]

💦 ISLAM AKAN KEMBALI MEMIMPIN…

Tags

, ,

fase-zaman

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ؕ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ؕ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰ لِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
[QS. An-Nur : 55]

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

بَشِّرْهَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ، وَالتَّمْكِينِ فِي الْبِلَادِ، وَالنَّصْرِ، وَالرِّفْعَةِ فِي الدِّينِ.

“Berikan kabar gembira kepada umat ini dengan kegemilangan, kedudukan kokoh di negeri, pertolongan, dan ketinggian agama.”

[Musnad Ahmad No. 21224, Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 405, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7862. Dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi, Syuaib Al Arnauth]

💦 TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN HAMBA-NYA…

Tags

,

untitledTanda orang yang diinginkan kebaikannya oleh Allah SWT akan dibukakan pintu amalnya sebelum kematian menjelang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الله تعالى إذا أراد بعبدٍ خيراً استعمله ” . فقيل : وكيف يستعمله يا رسول الله ؟ قال : ” يوفقه لعمل صالح قبل الموت.

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu..?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq)

Semoga kita mendapatkannya…Aamiin.

📚 *RINGKASAN AMALAN-AMALAN SYAR’I DI HARI JUM’AT* 🌅

Tags

, ,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

➡️1. Mandi jum’at (seperti mandi janabat), sebagaimana pendapat kebanyakan para ulama (bahkan sebagian ulama berpendapat mandi jum’at adalah wajib bagi yang hendak menghadiri shalat jum’at). Waktu mandi Jumat dimulai sejak terbit fajar.
➡️2. Bersiwak
➡️3. Memakai pakaian yang terbaik dan terindah, berdasarkan kesepakatan para Ulama (sebagaimana perkataan Ibnu Quddamah rahimahullah)
➡️4. Mengenakan parfum (minyak wangi).
➡️5. Anjuran untuk membaca surat khusus ketika shalat subuh di hari Jumat
Surat As-Sajdah di rakaat pertama dan surat Al-Insan di rekaat kedua.
➡️6. Menyegerakan pergi ke masjid untuk menghadiri shalat jum’at, kalau bisa datang sedini mungkin, semakin cepat semakin baik.
➡️7. Menuju masjid dengan berjalan kaki, bukan dengan menaiki kendaraan, berdasarkan kesepakatan Ulama (sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi).
➡️8. Berjalan menuju masjid dengan penuh ketenangan.
➡️9. Shalat jum’at di masjid yang terdekat dengan tempat tinggal anda.
➡️10. Sholat tahiyyatul masjid (meski khatib sedang khutbah).
➡️11. Mendekat kepada khatib, tidak memisahkan antara dua orang dan tidak melangkahi pundak-pundak manusia.
➡️12. Melakukan shalat tathawwu’ (shalat sunnah mutlak) hingga khatib naik ke mimbar.
➡️13. Diam, mendengar khutbah dan tidak berbuat yang sia-sia seperti memainkan kerikil, jari-jari, HP, jenggot dan lain-lain Karena bila khatib berkhutbah anda juga berbicara atau bahkan bermain dengan sesuatu semisal kerikil , HP atau lainnya, maka pahala shalat jum’at anda sia-sia.
➡️14. Mengarahkan wajah kearah khatib ketika ia berkhutbah, berdasarkan Ijma’ para Ulama. (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Quddamah rahimahullah).
➡️15. Apabila sang khatib bershalawat atas Nabi sallalahu alaihi wasallam, maka hendaklah orang yang mendengarkan juga membaca shalawat tanpa mengangkat suara.[Al-Lajnah Ad-Da’imah : 8/217].
➡️16. Ketika khutbah sedang berlangsung, maka tidak dibolehkan menjawab orang yang bersin, demikian pula membalas salam, menurut pendapat yang lebih kuat dikalangan ulama.[Al-Lajnah Ad-Da’imah : 8/242].
➡️17. Barangsiapa yang kehilangan 1 raka’at dari sholat jum’at, hendaklah melengkapi kekurangan 1 raka’at, dan dia dianggap mendapatkan sholat jum’at, sebagaimana diterangkan didalam hadits yang shohih.[Al-Lajnah Ad-Da’imah : 8/225].
➡️18. Melaksanakan Sholat Jum’at (wajib bagi laki-laki).
➡️19. Boleh menegakkan sholat jum’at, meskipun jumlah orang yang menghadirinya kurang dari 40 orang, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Jum’ah ayat 9.[Al-Lajnah Ad-Da’imah :8/215].
➡️20. Shalat sunnah rawatib setelah shalat jum’at 2 rakaat atau 4 rekaat (dengan dua kali salam).
➡️21. Membaca surat Al-Kahfi di malam dan hari Jum’at hingga selesai.
➡️22. Memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di malam dan hari Jum’at
➡️23. Memperbanyak doa, karena pada hari jum’at terdapat satu waktu yang
mustajab, terutama saat khatib naik mimbar sampai sholat dan setelah sholat Ashar sampai maghrib.
Oleh karena itu hendaknya berdoa dengan segala bentuk doa yang diinginkan baik untuk kebaikan dunia maupun akhirat, baik untuk diri kita sendiri maupun utk seluruh muslimin.
➡️24. Mengurangi aktifitas termasuk kajian atau ceramah agar bisa menghadiri shalat jum’at dengan khidmat.
➡️25. Memberikan wewangian pada masjid dengan bukhur atau sejenisnya, sebagaimana pendapat Jumhur Ulama.

💎 Mulia Dengan Sunnah 💎, [16.09.16 11:00]
[Forwarded from 💎 Mulia Dengan Sunnah 💎]
26. Bersedekah pada hari ini memiliki keistimewaan dibandingkan hari-hari lainnya (sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya ‘Zadul Ma’ad’).
➡️27. Memotong Kuku.

📜Catatan :
Memotong kuku disunnahkan kapan saja waktunya, dan tidak terikat
dengan waktu-waktu tertentu, seperti hari Jum’at atau Kamis.
Karena dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan tersebut dha’if (lemah).

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

______
📝Abu Syamil Humaidy حفظه الله تعالى

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron.

 

👐🏼 KAPAN DISEBUT KIKIR ?

Tags

👉🏻 Al-Hasan Al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ ditanya tentang kekikiran? Maka Beliau menjawab:

(هو أن يرى الرجل ما ينفقه تلفًا، وما يمسكه شرفًا)

🖐🏽 “Yaitu seseorang memandang bahwa apa yang diinfakkan itu musnah, dan apa yang dia cegah (untuk menginfakkannya) sebagai kemuliaan.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyah,Ibnu Muflih: 3/ 299)

🌴 *| Manusia Terbaik|* 🌴

Tags

, ,

🔰 Penyebutan Manusia Yang  Terbaik Yang Tertera Dalam Hadits-hadits Yang Shahih.
===========

١- 💎 “خيركم من تعلم القرآن وعلمه”.

*_Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengabarkannya.”_*
(Bukhari)

٢- 🎐 “خياركم أحاسنكم أخلاقا”.

*_Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”_*
(Bukhari)

٣- 💎 “خيركم أحسنكم قضاء”

*_”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar hutang.”_*
(Bukhari)

٤- 🎐”خيركم من يُرجى خيره ويُؤمٓن شره”.

*_”Sebaik-baik kalian adalah seorang yang diharapkan kebaikannya dan manusia merasa aman dari kejelekannya.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

٥- 💎 “خيركم خيركم لأهله”.

*_” Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

٦- 🎐 “خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام إذا فقهوا”.

*_” Sebaik-baik kalian dimasa jahiliyyah adalah manusia yang terbaik didalam Islam jika ia memiliki pemahaman.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

٧- 💎 “خيركم من أطعم الطعام، و ردَّ السلام”.

*_” Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makan dan menjawab salam.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

٨- 🎐”خياركم ألينُكم مناكب في الصلاة”.

*_”Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahu-bahunya ketika shalat.”_*
(Dishahihkan Al Albani)
Yaitu: lemah lembut didalam pengaturan shaf.

٩- 💎 ” خياركم الذين إذا رُؤوا ذُكِرَ اللهُ “.

*_” Sebaik-baik kalian adalah yang jika ia bermimpi maka segera mengingat Allah.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

١٠- 🎐”خير الناس من طال عمره وحسن عمله”.

*_”Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

١١- 💎 “خير الناس أنفعهم للناس”.

*_” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

١٢-💎 “خير الأصحاب عند الله خيركم لصاحبه ، وخير الجيران عند الله خيركم لجاره “.

*_” Sebaik-baik teman disisi Allah adalah yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya.”_*
(Dishahihkan Al Albani)

📝Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy _hafidzahullah_

💦 FENOMENA GHULUW (MELAMPAUI BATAS) DALAM AGAMA…

Tags

,

💧 Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya; juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.

💧 Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا.

“Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”
[Al-Mâ`idah : 77]

💧 Dalam hadits yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku, “Ambillah beberapa buah batu untukku..!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata,

أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّين.ِ
“Lemparlah dengan batu seperti ini..!” kemudian beliau melanjutkan, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.”[1]

💧 Ghuluw dalam agama itu sendiri adalah sikap dan perbuatan berlebih-lebihan melampaui apa yg dikehendaki oleh syariat, baik berupa keyakinan maupun perbuatan.[2]

👉 BEBERAPA ISTILAH UNTUK SIKAP BERLEBIH-LEBIHAN DALAM AGAMA.

💧 Ada beberapa ungkapan lain yang digunakan oleh syariat selain ghuluw ini, di antaranya:

1⃣ Tanaththu’ (Sikap Ekstrem)

`Abdullah bin Mas’ûd radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,

هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ…

“Celakalah orang-orang yang ekstrim..!!” Beliau mengucapkannya tiga kali.”[3]

2⃣ Tasyaddud (Memberat-Beratkan Diri)

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ.

“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”[4]

💧 Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ.

“Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).”[5]

3⃣ I’tidâ’ (Melampaui Ketentuan Syariat)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِين.َ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
[Al-Baqarah : 190]

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا.

“Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya.”
[Al-Baqarah : 187]

4⃣ Takalluf (Memaksa-Maksa Diri)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ.

“Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.”
[Shâd : 86]

💧 Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami dilarang bersikap takalluf (memaksa-maksa diri).”[6]

👉 SEBAB MUNCULNYA SIKAP GHULUW.

💧 Sebab-sebab munculnya sikap ghuluw ini bermacam-macam, di antaranya :

1⃣ Kebodohan dalam agama.

Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw ini.

2⃣ Taqlîd (ikut-ikutan).

Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berpangkal dari sebab ini.

3⃣ Mengikuti hawa nafsu.

Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.

4⃣ Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu.

Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk mempertebal sebuah keyakinan sesat.

💦 FENOMENA GHULUW (MELAMPAUI BATAS) DALAM AGAMA…

👉 BENTUK-BENTUK GHULUW…

💧 Secara garis besar, ghuluw ada tiga macam: dalam keyakinan, perkataan dan amal perbuatan.

💧 Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, Nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih sebagai orang-orang yang ma’shûm (bersih dari dosa). Contohnya adalah keyakinan orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap ahli bait dan keyakinan orang-orang sufi terhadap orang-orang yang mereka anggap wali.

💧 Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap seseorang, doa-doa dan dzikir-dzikir bid’ah, misalnya puji-pujian kaum sufi terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan wali-wali mereka; demikian pula dzikir-dzikir mereka yang keluar dari ketentuan syariat. Contoh lainnya adalah menambah-nambahi doa dan dzikir, misalnya menambah kata sayyidina dalam salawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

💧 Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbîratulihrâm; sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti was was. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakbîratul ihrâm karena anggapan belum sesuai dengan niatnya.

💧 Sebenarnya, ada satu jenis ghuluw lagi yang perlu diwaspadai yaitu ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasuki para pemuda yang memiliki semangat keagamaan yang berlebih-lebihan akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis kafir, fasiq dan bid’ah.

👉 VIRUS GHULUW…

💧 Virus ghuluw ini biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang Allah Azza wa Jalla tanpa haq, tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.

💧 Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berkata, “Agama Allah Azza wa Jalla adalah agama pertengahan, antara sikap ekstrim (berlebih-lebihan) dan sikap moderat (terlalu longgar).”

💧 Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnul Munîr sebagai berikut, “Hadits ini termasuk salah satu mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua sama-sama menyaksikan bahwa setiap orang yang melewati batas dalam agama pasti akan terputus. Maksudnya bukanlah tidak boleh mengejar ibadah yang lebih sempurna, sebab hal itu termasuk perkara yang terpuji. Perkara yang dilarang di sini adalah berlebih-lebihan yang membuat jemu atau melewati batas dalam mengerjakan amalan sunat hingga berakibat terbengkalainya perkara yang lebih afdhal. Atau mengulur kewajiban hingga keluar waktu. Misalnya orang yang shalat tahajjud semalam suntuk lalu tertidur sampai akhir malam, sehingga terluput shalat Subuh berjama’ah, atau sampai keluar dari waktu yang afdhal atau sampai terbit matahari sehingga keluar dari batasan waktunya.”

💧 Dalam hadits Mihzan bin al-Adra’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan,

إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوْا هَذَا الأَمْرَ بِالمُغَالَبَةِ، وَخَيْرَ دِيْنِكُمْ اليُسْرَةُ.

“Kalian tidak akan dapat melaksanakan agama ini dengan memaksakan diri. Sebaik-baik urusan agamamu adalah yang mudah.”

💧 Pernah ada tiga orang yang ingin mengetahui aktifitas ibadah n Nabi di rumah. Mereka tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka bertanya kepada ‘Aisyah z tentang ibadah beliau. Setelah diberitahukan, mereka merasa ibadah beliau itu hanya sedikit. Mereka berkata, “Dimanakah kedudukan kami dibanding dengan Nabi..?? Padahal telah diampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.”
Maka salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan shalat malam terus menerus tidak akan tidur.”
Yang lain berkata: “Aku akan puasa terus menerus tanpa berbuka.”
Dan yang lain berkata: “Aku tidak akan menikah selama-lamanya.”

💧 Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya mengatakan,

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ؛ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kaliankah yang mengatakan begini dan begini..?! Adapun diriku, demi Allah Azza wa Jalla , aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur serta aku menikahi wanita..! Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.”[7]
Dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُوْنَ عَنْ الشَّيءِ أَصْنَعُهُ فَوَاللهِ إِنِّي لأَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

“Bagaimana halnya kaum-kaum yang menjauhkan diri dari sesuatu yang kulakukan..? Demi Allah Azza wa Jalla , aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah Azza wa Jalla dan yang paling takut kepada-Nya.”[8]

Dalam menjelaskan hadits ini ad-Dawudi berkata, “Menjauhkan diri (dengan anggapan hal itu lebih baik-pent) dari dispensasi yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan dosa besar. Sebab ia memandang dirinya lebih bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla daripada rasul-Nya. Ini jelas sebuah penyimpangan.”

Ibnu Hajar  menambahkan, “Tidak diragukan lagi kesesatan orang yang meyakini demikian (meyakini bahwa hal itu lebih baik).”[9]

💦 FENOMENA GHULUW (MELAMPAUI BATAS) DALAM AGAMA…

👉 MENJAUHI GHULUW BUKAN BERARTI JATUH DALAM TAQSHIR (MELONGGAR-LONGGARKAN DIRI)

💧 Akan tetapi perlu juga kita waspadai, bahwa dalam menjauhi sikap ghuluw ini kita juga jangan sampai terjebak ke dalam sikap taqshîr (melalai-lalaikan dan melonggar-longgarkan diri).

💧 Ini merupakan tipu daya setan yang luar biasa. Setan selalu mencari titik lemah seorang insan. Apabila titik lemahnya pada sikap ghuluw maka setanpun masuk melalui pintu ghuluw dan apabila titik lemahnya pada sikap taqshîr maka setanpun masuk melalui pintu taqshîr. Memang, mempertahankan diri di tengah-tengah antara sikap ghuluw dan sikap taqshîr merupaka suatu perkara yang sulit. Kesuksesan, kebahagiaan dan keberhasilan dalam urusan akhirat maupun dunia tergantung dengan cara kita menempatkan segala sesuatu secara proporsional menurut pandangan syariat yang hanîf dan fitrah ini. Karena setiap ketidakseimbangan akan menyebabkan ketimpangan dan keberatan yang akan menghalangi tercapainya tujuan.

💧 Dalam hal ini setan akan melihat dari pintu manakah ia mungkin masuk. Jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah potensi rendah diri dan gampang menyerah, maka setanpun menanamkan rasa malas dalam dirinya, mengendorkan semangatnya, menggambarkan berat amal-amal ketaatan dan mendorongnya untuk mudah mengabaikan kewajiban, sampai akhirnya ia meninggalkan kewajiban itu sama sekali.

💧 Namun jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah semangatnya yang menggebu-gebu, mulailah setan menanamkan anggapan bahwa apa yang diperintahkan itu baru sedikit dan belum cukup untuk mengimbangi semangatnya, sehingga ia serasa membutuhkan sesuatu yang baru sebagai tambahannya.[10]
👉 JANGAN SALAH MENILAI GHULUW.

💧 Sebagaimana halnya kita tidak boleh terjebak dalam sikap taqshîr karena menghindari ghuluw, demikian pula kita jangan salah menilai ‘ghuluw’. Sebagian orang menilai keteguhan memegang syariat dan istiqamah di atasnya merupakan sikap ghuluw. Sebagai dampaknya, mereka menganggap pengamalan sebagian sunnah Nabi sebagai sikap ghuluw. Ini jelas salah besar. Memang kita membenci sikap ghuluw, namun hendaknya kita jangan salah menilai. Sebagian orang beranggapan memelihara jenggot, memakai cadar, mengenakan pakaian sampai setengah betis, memakai gamis bahkan shalat lima waktu berjama’ah di masjid pun dianggap ghuluw. Ini tentu penilaian yang salah. Sebab, seluruh perkara-perkara tersebut adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamyang dianjurkan bahkan ada yang wajib. Penilaian yang salah ini bisa berakibat fatal, yaitu perkara-perkara sunnah dianggap sebagai perkara bid’ah, dan sebaliknya perkara bid’ah dianggap sunnah.

💧 Hakikat ghuluw adalah sesuatu yang melangkahi ketentuan syariat. Penilaian tersebut didasari atas kebodohan dalam memahami apa itu ghuluw dan juga kejahilan terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak boleh menilai sesuatu tanpa ilmu. Dan berbicara tentang agama Allah Azza wa Jalla tanpa ilmu merupakan salah satu langkah setan, bahkan tergolong dosa besar. Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ.

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
[Al-A’râf : 33]

💧 Apalagi terkadang tuduhan ghuluw terhadap perkara-perkara sunnah ini mengandung ejekan dan olokan terhadap para pengamalnya. Ini jelas kesalahan di atas kesalahan. Takutlah kepada Allah Azza wa Jalla pada hari seluruh kesalahan akan ditampakkan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُون.َ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
[Al-Hujurat : 11]

👉 KIAT-KIAT MENGHINDARI GHULUW.

💧 Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menghindari fenomena ghuluw dalam agama, diantaranya:

1⃣ Menuntut ilmu syar’i.

Ilmu adalah lentera yang menerangi langkah kita di dunia dan menjadi asset yang amat bernilai di akhirat. Apabila lentera ini padam, maka setan akan leluasa menyesatkan anak Adam. Maka dari itu janganlah absen dari majelis-majelis ilmu. Banyak sekali faidah yang dapat kita petik dari majelis ilmu. Di antaranya adalah kita dapat bertatap muka secara langsung dengan ahli ilmu.

2⃣ Jangan malu dan segan bertanya kepada ahli ilmu (Ulama).

Malu bertanya sesat di jalan, begitulah kata pepatah kita. Terlebih lagi dalam urusan agama. Janganlah kita malu bertanya kepada ulama dalam perkara-perkara agama yang belum kita ketahui, baik dalam perkara aqidah, ibadah, mu’amalah dan lainnya. Terlebih lagi perkara yang berkaitan dengan perincian dalam agama, misalnya prosedur pelaksanaan sebuah ibadah, perincian dalam hal aqidah dan lain sebagainya.

💥 Kesimpulannya, kita harus menjauhi segala macam bentuk ghuluw dalam agama, baik berupa keyakinan, ucapan maupun perbuatan yang diatas-namakan agama. Dan hendaknya kita juga harus waspada jangan sampai tergelincir dalam sikap taqshîr. Di samping itu, janganlah sembrono dan serampangan dalam menilai ‘ghuluw’ tanpa ilmu.

Referensi:
1. Tafsîrul-Qur’ân al-Azhîm, Ibnu Katsîr.
2. Fathul Bâri Syarah Shahîh al-Bukhâri.
3. Mawâridul Amân al-Muntaqâ min Ighâtsatil Lahfân, Ali Hasan Ali `Abdil Hamîd.
4. Iqtidhâ’ Shirâtul Mustaqîm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
5. Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhus Shâlihîn, Salim bin ‘Ied al-Hilâli.
6. Mausu’ah Manâhi Syar’iyyah, Salim bin ‘Ied al-Hilâli.
7. Madârijus Sâlikîn, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
8. Mu’jamu Maqâyisil Lughah.
9. Muqaddimah Shahîh Fiqh Sunnah.

Footnote
[1]. Hadits shahîh, diriwayatkan oleh an-Nasâ’i (V/268), Ibnu Mâjah (3029) dan Ahmad (I/215), al-Hâkim mengatakan: “Shahîh, sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[2]. Mu’jamul Maqâyis IV/388.
[3]. Hadits riwayat Muslim (2670).
[4]. Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
[5]. Hadits riwayat al-Bukhâri.
[6]. Fathul Bâri (XIII/263-265)
[7]. Muttafaqun ‘alaihi.
[8]. Muttafaqun ‘alaihi.
[9]. Silakan lihat kitab Fathul Bâri tulisan Ibnu Hajar t .
[10]. Silakan lihat kitab Mawâridul Amân tulisan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid halaman 187.

telegram.me/yurako

Mustahil menjadi mustajabah

Tags

,

Diantara untaian doa yang paling banyak diabadikan oleh Alloh di dalam Al Quran adalah doa nabi Ibrahim

Padahal ia adalah seorang kekasih Alloh diatas muka bumi

Tuk memberi itibar, bahwa sekuat apapun manusia dalam iman, maka doa adalah rahasia kekuatan imanya….

Indahnya DOA, ketika merubah yang mustahil menjadi mustajabah

Dan merubah yang tak mungkin jadi mungkin…

Tak ada yang sia-sia dalam pinta doa

Oemar mita
laa tansana min duaikum

💦 PESAN BUAT JURU DAKWAH…

Tags

, ,

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

💧 Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat untuk mendapatkan ketinggian di muka bumi (kedudukan) atau untuk menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang yang berperang karena fanatisme dan riya’.

💧 Namun, apabila dia berbicara karena Allah; ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata, maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.”

(Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)

🌅 *RAHASIA KEAGUNGAN HARI ARAFAH* 🗻

Tags

,

🌅 Hari Arafah 9 Dzulhijjah sudah diambang pintu. Emang ada apa ?

🌷 Ketahuilah bahwa hari Arafah merupakan hari yang penuh dengan keutamaan, karena hari Arafah adalah hari:

✔️1. Hari Allah membuka pintu Maghfiroh seluas-luasnya.

✔️2. Hari bagi para jama’ah haji untuk wukuf yg merupakan inti haji

✔️3. Hari penyempurnaan agama  dan nikmat yang agung kepada ummat Islam.

📓 Ummul mukminin Aisyah pernah menuturkan bahwasanya Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُوْ ثُمَّ يُبَاهِيْ بِهِمْ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُوْلُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

“Tidak ada suatu hari yang Alloh lebih banyak membebaskan seorang hamba dari api neraka melainkan hari Arafah. Sesungguhnya Alloh mendekat dan berbangga di hadapan para malaikatnya seraya berkata: Apa yang mereka inginkan?.”

🎓 Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini jelas sekali menunjukkan keutamaan hari Arafah”.

📓 Rasulullah juga bersabda:

إِنَّ اللهَ لَيُبَاهِيْ الْمَلاَئِكَةَ بِأَهْلِ عَرَفَاتٍ يَقُوْلُ: اُنْظُرُوْا إِلىَ عِبَادِيْ شَعْثًا غَبْرًا

Sesungguhnya Alloh membanggakan orang-orang yang wukuf di Arafah kepada para malaikat. Alloh berkata kepada mereka: Lihatlah para hambaKu, mereka dalam keadaan kusut dan berdebu.

➡️ Maka semestinya bagi kita untuk memanfaatkan hari Arafah untuk memperbanyak pundi2 pahala sebagai bekal menghadap Sang Maha Kuasa.

🔰 Diantara amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa, berdasarkan hadits dari Abu Qotadah bahwasanya Rasulullah ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Puasa arafah menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.

☝🏻️ Subhanallah, alangkah murahnya kasih sayang Allah kpd hambaNya. Hanya dengan modal amalan yg sederhana tapi pahalanya begitu melimpah. Bukankah kita adalah makhluk hina yg berlumuran dosa ? Bukankah kita sangat butuh pada ampunanNya ?

💐 Sungguh berbahagia orang yg menghidupkannya dan sungguh rugi orang yg melalaikannya.

➡️ Dan diantara amalan yg ditekankan juga adalah memperbanyak doa di hari Arafah, Krn doa saat itu adalah mustajab. Dan ini merupakan keadilan Allah. Jika para jamaah haji yg sedang wukuf doanya mustajab, demikian juga yg tidak haji disyariatkannya puasa karena doa orang puasa juga mustajab.

✔️ Jangan lupa hari Arafah tahun ini hari AHAD lusa…..Sekali lagi jangan lupa….

✏️ Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi