Tags

, , ,

Dari Imran bin Khalid, dia mengatakan, Al-Hasan mengatakan,

“Orang mukmin itu menjadi bersedih, dan dia dinamakan sebagai orang yang bersedih karena dia berada diantara dua ketakutan : Antara dosa yang telah lalu, (yang tidak dia ketahui apa yang Allah perbuat terhadapnya), dengan ajal yang masih tersisa, yang tidak dia ketahui, kebinasaan-kebinasaan apakah yang akan menimpanya.”

(Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 2/132)

Dari Thalhah bin Shabih, dari al-Hasan, dia mengatakan,

πŸ’§ Orang Mukmin adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang dikatakan Allah adalah sebagaimana yang dikatakannya.

πŸ’§ Orang Mukmin itu orang yang paling bagus amalannya, dan orang yang paling besar rasa takutnya (kepada Allah).

πŸ’§ Seandainya dia telah menafkahkan harta sebesar gunung, maka dia belum merasa aman sebelum melihat secara langsung (bahwa sedekahnya diterima oleh Allah).

πŸ’§ Tidaklah keshalihan, kebaktian dan ibadahnya bertambah melainkan semakin bertambah pula rasa takutnya, seraya mengatakan, ‘Aku tidak selamat’.

πŸ’§ Sementara orang munafik mengatakan, ‘Orang-orang sangat banyak, aku akan diampuni, dan tidak (bahaya) ada apa-apa atas diriku’. Dia lupa beramal, tapi berharap banyak kepada Allah.

(Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, 2/153)
————————
Note: Al-Hasan Al-Basri r.h, lahir +/_ 20H – wafat 110 H (salah seorang imam tabi’in, imam mujtahid, imam yang kata-katanya mirip dengan kata-kata para nabi, ahli fikih, zuhud, giat beribadah, pemuka ilmu al-Qur’an dan tafsirnya, pemuka ilmu dan hadits, dan kebaikan-kebaikannya melimpah)

Advertisements